Warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur yang sakit dievakuasi
Satpol Pamong Praja, Rabu (16/1/2013). Banjir melanda sebagian wilayah
DKI Jakarta dan mengganggu aktivitas warga.
Isak tangis Cocop (45) mewarnai banjir di Jalan Jatinegara Barat, Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (17/01/2013) malam. Hal itu disebabkan Adum (72), ayahnya masih bertahan seorang diri di rumahnya di RT 11 RW 03.
Datang dengan sendal jepit, baju sederhana, dan penuh harap, Cocop yang tinggal di RT 09 RW 08, Tanah Rendah, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur mengatakan, ayahnya sudah dua hari bertahan di lantai dua rumahnya di Kampung Pulo.
"Saya memang nggak tinggal di sini, sengaja kesini itu soalnya dengar dari adik saya yang tinggal sama bapak di RT 11 RW 03 kalau ayah masih bertahan di rumah. Langsung saya kesini minta tolong tim evakuasi supaya ayah dievakuasi, tapi katanya gak bisa sekarang soalnya gelap, terus arus makin kencang, perahu juga gak bisa jangkau rumah ayah saya," kata Cocop berurai air mata kepada Kompas.com, Kamis (17/1/2013).
Cocop menuturkan, adik dan ibunya yang tinggal bersama ayahnya sudah mengungsi di Sudinkes Jaktim, akan tetapi ayahnya memilih bertahan di rumah mereka. Menurut Cocop, mungkin ayahnya bertahan karena mengira air hari ini tidak akan naik. Ternyata ketinggian air mencapai ketinggian empat meter.
"Saya takut banget mbak, takut ayah kenapa-kenapa. Bahan makanan sudah sedikit di rumah. Saya bingung mau bagaimana lagi, saya juga ngerti sih nggak mungkin dievakuasi malam ini soalnya arusnya kencang terus susah juga akses ke rumah bapak saya," ujar Cocop.
Cocop berharap agar sang ayah masih dalam kondisi aman, dirinya hanya mampu berdoa sambil menunggu mentari tiba agar sang ayah dapat dievakuasi segera. Pertemuan dengan sang ayah, adik dan ibunda tercintanya sangat diharapkan Cocop. Mata Cocop berbinar, hatinya bergumam, bibirnya berucap doa, seraya memohon agar sang ayah tetap selamat.
*) source: http://megapolitan.kompas.com
Isak tangis Cocop (45) mewarnai banjir di Jalan Jatinegara Barat, Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (17/01/2013) malam. Hal itu disebabkan Adum (72), ayahnya masih bertahan seorang diri di rumahnya di RT 11 RW 03.
Datang dengan sendal jepit, baju sederhana, dan penuh harap, Cocop yang tinggal di RT 09 RW 08, Tanah Rendah, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur mengatakan, ayahnya sudah dua hari bertahan di lantai dua rumahnya di Kampung Pulo.
"Saya memang nggak tinggal di sini, sengaja kesini itu soalnya dengar dari adik saya yang tinggal sama bapak di RT 11 RW 03 kalau ayah masih bertahan di rumah. Langsung saya kesini minta tolong tim evakuasi supaya ayah dievakuasi, tapi katanya gak bisa sekarang soalnya gelap, terus arus makin kencang, perahu juga gak bisa jangkau rumah ayah saya," kata Cocop berurai air mata kepada Kompas.com, Kamis (17/1/2013).
Cocop menuturkan, adik dan ibunya yang tinggal bersama ayahnya sudah mengungsi di Sudinkes Jaktim, akan tetapi ayahnya memilih bertahan di rumah mereka. Menurut Cocop, mungkin ayahnya bertahan karena mengira air hari ini tidak akan naik. Ternyata ketinggian air mencapai ketinggian empat meter.
"Saya takut banget mbak, takut ayah kenapa-kenapa. Bahan makanan sudah sedikit di rumah. Saya bingung mau bagaimana lagi, saya juga ngerti sih nggak mungkin dievakuasi malam ini soalnya arusnya kencang terus susah juga akses ke rumah bapak saya," ujar Cocop.
Cocop berharap agar sang ayah masih dalam kondisi aman, dirinya hanya mampu berdoa sambil menunggu mentari tiba agar sang ayah dapat dievakuasi segera. Pertemuan dengan sang ayah, adik dan ibunda tercintanya sangat diharapkan Cocop. Mata Cocop berbinar, hatinya bergumam, bibirnya berucap doa, seraya memohon agar sang ayah tetap selamat.
*) source: http://megapolitan.kompas.com



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !