Bila Anda memiliki segelas teh, lalu
disuruh memberikannya kepada orang di sebelah, tinggal berapa teh yang
tersisa Anda miliki? Tinggal berapa?.
Demikian mudahnya. Kalau memiliki tiga diberikan satu, tentu tinggal dua. Kalau memiliki dua diberikan satu tentu sisa satu. Kalau hanya memiliki satu diberikan satu, ya habis, tentu saja. Tak bersisa. Itulah yang sering terbayang dalam benak kebanyakan orang. Hitung- hitungannya memang begitu. Namun benarkah demikian itu?.
Roda Kehidupan
Ya, demikian keyakinan atau pengalaman
sebagian orang. Bahwa memberikan apa yang dimiliki faktanya hanya akan
membuat berkurang. Lain dengan investasi bisnis yang bisa diharap bagi
hasilnya. Tapi kalau berbagi kepada fakir miskin dan yatim piatu, apa
mungkin mereka bisa memberi imbalan hasil? Apa yang mau ditunggu?
Sia-sia saja. Itulah yang terbayang.
Bayangan demikian itu membuat seseorang
berat berbagi. Meski hartanya banyak, kalau disuruh bersedekah masih
harus hitung- hitungan dulu. “Ini kan hasil jerih payah saya sendiri.
Untuk apa harus dibagi dengan mereka yang kekurangan dan menderita?
Peduli amat dengan nasib mereka,” demikian pikirnya.
Benarkah cara pandang hidup demikian itu baik baginya?
Roda kehidupan terus berputar, kadang di
atas kadang juga di bawah. Kemudahan dan kesulitan datang silih
berganti. Bila keadaan lapang itu berubah menjadi sempit, siapa pun akan
butuh pertolongan orang lain. Ia berharap ada orang yang peduli dan mau
menolong dirinya.
Tapi bagaimana orang- orang di
sekitarnya memperlakukan seorang yang bakhil itu? Bisa jadi masih ada
yang berfikir, “Ah, untuk apa menolong orang yang bakhil seperti dia.
Bukankah saat berlebih ia hanya memikirkan diri sendiri? Biarin saja
agar tau rasa.” Si Bakhil akhirnya benar- benar merasakan kesulitan.
Pintu- pintu tertutup. Ia terbelenggu oleh kebakhilannya sendiri.
Sekali-kali janganlah orang-orang yang
bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya
menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan
itu adalah buruk bagi mereka. (Ali Imran [3] : 180).
Saat dikaruniai Allah kekayaan lebih,
sesungguhnya merupakan kesempatan seorang untuk berbagi dengan sesama.
Itulah saat yang tepat menanam kebaikan. Tetapi hawa nafsu dan syaitan
membisikkan manusia untuk lebih mementingkan diri sendiri dan cinta
dunia. Mereka tidak peduli terhadap kesulitan hidup fakir miskin, yatim
piatu, dan dhuafa. Mereka menganggap sikap bakhilnya itu akan membuatnya
lebih baik. Padahal pada kenyataanya itu hanya akan menyempitkan
jiwanya sendiri saja dan berakibat buruk baginya. Ia telah diperbudak
oleh hartanya dan dikucilkan masyarakatnya.
Lepaskan jiwa dari belenggu dunia.
Ingatlah sesungguhnya harta dan dunia ini adalah amanah- Nya agar kita
berbagi dengan sesama. Janganlah kita menyumbat aliran rahmat- Nya
dengan sikap tak mau berbagi. Bakhil hanya akan membelenggu diri.
Apalagi saat roda kehidupan terhenti alias maut menjemput, harta yang
telah menjerat jiwanya di dunia itu juga akan menjerat pula di akhirat.
Naudzubillah.
Harta yang mereka bakhilkan itu akan
dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah
segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran [3] : 180).
Jaminan Allah
Hitung- hitungan dalam kehidupan itu
ternyata tidak seperti anggapan orang di atas bahwa bila memberi akan
berkurang. Misalnya saat Anda dan beberapa teman sedang bertamu. Oleh
tuan rumah Anda disuguhi segelas teh. “Tolong Pak, minumannya diberikan
teman sebelah.” Mungkin ada yang berpikir, “Kalau saya berikan,
bagaimana bagian saya nanti?” Tapi begitu Anda memberikannya kepada
teman sebelah, habiskah yang kita miliki? Ya, sejenak sepertinya apa
yang kita miliki itu berpindah tangan. Tak bersisa. Namun tak seberapa
lama tuan rumah memberi lagi. Ternyata dengan memberi bukannya habis
tapi ada lagi pengganti. Saat kita memberikannya lagi pada teman lain
yang belum mendapat bagian, tuan rumahnya memberinya lagi. Lagi dan
lagi.
Kita hidup di dunia ini juga demikian.
Ibaratnya kita sebagai tamu Allah. Kita lahir dalam keadaan telanjang
dan tak membawa sehelai benang pun. Kemudian kita bisa hidup karena
dicukupi dengan suguhan berbagai karunia dan rizki-Nya. Cukup makan,
sandang dan papan. Pada saat kita berlebih, Allah memerintahkan kita
bersedekah dan berbagi kepada hamba-hamba-Nya yang lain yang belum
kebagian seperti kita.
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang
telah beriman : “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun
terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak
ada jual beli dan persahabatan”. (QS. Ibrahim [14] : 31).
Bila hamba-Nya itu mau berbagi, akankah
Allah membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia ini? Sama sekali
tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia akan menggantinya dengan yang lebih
baik. Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?.
Sesungguhnya kalian akan diberi
pertolongan dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT, manakala kalian mau
menolong dan berpihak, membantu, serta mau memberikan kepada
orang-orang yang lemah dan menderita dalam kehidupannya. (Riwayat
Muslim).
Saat kita memberi, secara psikis Allah
telah melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia. Jiwa ini merdeka
dari perbudakan harta. Secara sosial, didekatkan hati-hati sesama saling
kasih sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini.
Andai roda kehidupan sedang berputar ke
bawah, seorang yang suka berbagi pun tak akan berlarut dalam kesulitan
terlalu lama. Sebab pintu-pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat
berbagai jalan. Buah dari sukanya berbagi itu, akan mengundang demikian
banyak orang yang dengan senang hati menolongnya. Hal yang tak akan
dinikmati oleh seorang yang bakhil.
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu
Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Inginkah
kalian mendapatkan dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin dan
kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya segala kebutuhan hidup
kalian?”.
Para sahabat menjawab : “Benar ya Rasul,
kami menginginkan hal itu”. Rasul pun menjawab : “Sayangilah anak-anak
yatim; usaplah kepalanya (bertanggung jawab serta memperhatikan
kehidupan mereka), dan berilah makanan dari sebagian makanan yang kalian
makan (untuk para dhu’afa dan fakir miskin); maka pasti kalian akan
mendapatkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta
terpenuhi kebutuhan kalian.”
Sungguh alangkah indahnya hidup orang
yang telah mendapat jaminan keberlimpahan ketenangan lahir dan batin.Ya
Allah berkahilah rizki hamba. Berikan kekuatan tangan ini untuk berbagi.
Amiiin.
*)sumber: http://www.bmh.or.id/new/informasi/kolom/pengelola-zis/327-indahnya-berbagi-dengan-sesama.html



0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !